Sosiologi X : Interaksi Sosial

A. Pengertian

Menurut KBBI, interaksi berarti hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, dan saling membutuhkan.

Oleh karena itu, Interaksi sosial dapat berarti hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antarindividu, individu dengan kelompok, dan antarkelompok.

B. Ciri-ciri Interaksi Sosial

  1. Jumlah pelaku < 1 orang
  2. Terjadi komunikasi antarpelaku
  3. Adanya dimensi waktu : masa lalu, sekarang, masa depan
  4. Mempunyai tujuan/maksud yang jelas. cth : interaksi dengan tukang sayur untuk memenuhi kebutuhan makanan

C. Syarat Interaksi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, syarat interaksi sosial :

  1. Kontak Sosial
    a. Kata ‘kontak’ berasal dari bahasa latin ‘con’ atau ‘cum’ yang berarti bersama-sama dan ‘tangere’ yang berarti menyentuh. Namun dalam sosiologi, kontak sosial sebenarnya dapat berlangsung tanpa bersentuhan fisik, seperti : melalui telepon.
    b. Sifat-sifat:
    – Positif dan negatif. Positif mengarah pada kerja sama, sedangkan negatif mengarah pada pertentangan/konflik
    – Primer dan sekunder. Primer artinya para pelaku bertemu langsung/tatap muka, sedangkan sekunder artinya para pelaku tidak bertemu langsung/tatap muka. Sekunder dibagi lagi menjadi langsung dan tidak langsung. Langsung (A->B), contoh : Adi mengirim soal ke Andi melalui e-mail. Tidak langsung (A->C->B), contoh : Adi melalui pembantu Andi menitipkan soal untuk Andi.
  2. Komunikasi
    a. Memiliki arti menafsirkan informasi yang diterima.
    b. Unsur-unsur :
    1. Komunikator : orang yang menyampaikan informasi
    2. Komunikan : orang yang menerima informasi
    3. Pesan : informasi yang disampaikan
    4. Efek : perubahan yang diharapkan terjadi kepada komunikan setelah menerima pesan dari komunikator
    5. Media : alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan
    c. Tahapan :
    1. Encoding : gagasan yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam bentuk tulisan/gambar. Komunikator harus memilih bahasa/simbol yang mudah dipahami oleh komunikan
    2. Penyampaian : gagasan yang sudah berwujud tulisan/gambar disampaikan, bisa lisan, tulisan, maupun gabungan keduanya
    3. Decoding : proses penafsiran yang dilakukan komunikan terhadap tulisan/gambar yang diterimanya berdasarkan pengalam yang dimiliki

Kontak sosial tanpa komunikasi tidak berarti apa-apa. Contoh : orang Jawa berbicara ke orang Padang yang tidak mengerti bahasa Jawa.

Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan perspektif interaksionis. Salah satunya adalah interaksionisme simbolik, yaitu penggunaan simbol-simbol dalam interaksi sosial. contoh : bendera warna putih digunakan para pelaut suatu negara untuk menyatakan menyerah. Dalam interaksionisme simbolik, terhadapat tiga pokok pikiran : act, thing, meaning. contoh : tindakan (act) masyarakat hindu terhadap sapi (thing) yang dianggap suci (meaning). Meaning tidak langsung didapatkan, tetapi melalui proses penafsiran terlebih dahulu berdasaran ‘definisi situasi’. contoh : seorang gadis menerima ucapan salam seorang pria tidak dikenal, gadis itu akan menafsirkan dulu niat si pria, jika baik maka baru dibalas. Balasan yang diberikan sengaja atau tidak sengaju membuat ‘ekspresi’ agar pihak lain terkesan/impresi. Ini disebut pengaturan kesan. Ekspresi terdapat dua yaitu ekspresi yang diberikan (pernyataan yang bisa dilakukan pada umumnya)  dan yang dilepaskan (pernyataan mengandung informasi dari dalam diri orang tsb). contoh : ketika mengucapkan terima kasih setelah dibantu (ekspresi yg diberikan) dengan wajah masam (ekspresi yang dilepaskan/kesan sebenarnya dibalik terima kasih itu)

D. Faktor-faktor interaksi sosial

  1. Imitasi
    imitasi adalah tindakan meniru orang lain secara sebagian, contoh : meniru potongan rambut artis idola (tidak seluruh tubuh artis itu, hanya rambutnya). Untuk melakukan imitasi perlu ada proses mengagumi, menjujung tinggi, dan menerima apa yang akan diimitasi. Imitasi dapat membantu kita menaati nilai dan norma dalam masyarakat, contoh : seorang anak meniru dewasa menyebrang jalan melalui jembatan penyebrangan. Namun bisa juga bersifat ke arah negatif, contoh : meniru teman bolos sekolah.
  2. Identifikasi
    identifikasi adalah tindakan meniru orang lain secara keseluruhan, contoh : cosplay dan operasi plastik ekstrem agar sama persis dengan seseorang. Indentifikasi dilakukan karena adanya kebutuhan terhadap tipe ideal tertentu dalam hidup. Identifikasi bersifat lebih mendalam dibandingkan imitasi karena bisa membentuk kepribadian seseorang. contoh : seorang anak menganggap ayahnya sangat hebat sehingga ia benar-benar mengikuti segala sesuatu pada ayahnya sebagai penuntun hidupnya, disini kepribadian ayah akan meresap ke dalam si anak.
  3. Sugesti
    sugesti adalah memberi pandangan/pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang lain tsb mengikuti pandangan/perilaku tsb tanpa berpikir panjang. Segala anjuran langsung diterima dan diyakini kebenarannya. Umumnya, anjuran tsb berasal dari : orang yang berwibawa, yang kedudukannya lebih tinggi, reklame/iklan di media massa, dan kelompok mayoritas terhadap minoritas. Selain itu, jika dilihat dari pihak penerima sugesti, pihak tersebut biasanya : dalam kondisi berpikiran terpecah belas/disosiasi, kemampuan daya berpikir kritis terganggu, dan dilanda keraguan dan pendapat yang searah.
  4. Simpati
    simpati adalah perasaan tertarik yang timbul dalam diri seseorang dan merasa seolah-olah berada dalam posisi orang lain tsb. Dalam hal ini, perasaan berperan penting. Biasanya simpati kita rasakan terhadap sebaya kita, teman sekerja, atau tetangga (lebih mudah karena memang ada kontak batin yang lebih dekat)
  5. Empati
    empati adalah simpati yang mendalam yang mempengaruhi fisik dan kejiwaan seseorang. Biasanya disertai tindakan. contoh : seorang ibu memiliki anak yang kuliah di luar kota, ia terus memikirkan kondisi anaknya sehingga stress dan jatuh sakit lalu ia pergi menyusul anaknya.

E. Kedudukan(Status) dan Peran 

Status dan peran adalah unsur-unsur struktur sosial yang memiliki arti penting dalam sistem sosial. Sistem sosial adalah pola yang mengatur hubungan timbal balik antarindividu dalam masyarakat. Dalam hubungan tersebut, status dan peran individu mempunyai peran penting arena kelangengan masyarakat bergantung pad aeseimbangan kepentingan-kepentingan individu yg bersangkutan.

  1. Kedudukan/Status
    status sosial merupakan posisi seseorang secara umum dalam strutur sosial masyarakat dan hubungannya dengan orang lain.Ini menyangkut prestise, pergaulan, hak-hak, dan kewajibannya.
    Terdapat 3 macam status berdasarkan cara mendapatkannya :
    1. Ascribed status : status yang dicapai dengan sendirinya tanpa memerhatikan perbedaan rohaniah/kemampuan atau bisa disebut juga didapatkan dari lahir. Contoh : anak dari status bangsawan memperoleh status bangsawan, seseorang dari kasta Brahmana di india memperoleh kedudukan terhormat karena ortunya berasal dari kasta tsb. Ascribed status sering dijumpai pada masyarakat dengan sistem lapisan sosial feodal/tertutup.
    2. Achieved status : status yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja, tidak diperoleh atas dasar keturunan tetapi tergantung dari kemampuan individu dalam mencapai tujuannya. Jenis status ini terbuka untuk siapa saja. Contoh : seseorang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi persyarat tertentu spt lulusan fakultas hukum, berpengalaman kerja di bidang hukum, dan lulus ujian sbg hakim.
    3. Assigned status : status yang diperoleh atas pemberian dari pihak lain. Assigned status berhubungan erat dengan achieved status. Artinya, suatu kelompok/golongan/seseorang memberikan status lebih tinggi kepada orang yang berjasa. Status ini juga dapat disertai usaha, dalam pengertian orang tsb telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebuhtuhan dan kepentingan masyarakat. Contoh: peneima Kalpataru, siswa teladan, gelar pahlawan revolusi.

Dalam suatu masyarakat, seseorang dapat memiliki lebih dari 1 status. Contoh : saya sebagai pelajar di sekolah tapi juga sebagai anak di rumah. Ini dapat menimbulkan ‘konflik status’. Konflik status adalah konfli batin yang dialami seseorang sebagai akibat adanya pertentangan pada beberapa status yg dimilikinya. contoh : Ibu Hermin adalah kepala sekolah dan ibu rumah tangga. Ibu Hermin bingung harus memilih yang mana.

2. Peran Sosial

peran adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain terhadap seseorang dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya. status dan peran tidak dapat dipisahkan, karena tanpa status tidak ada peran dan tidak ada status tanpa peran. contoh : status kepala sekolah SMA Sukacita, dengan status tsb seseorang diharapkan dapat memimpin sekolahnya.

setiap orang memiliki bermacam-macam peran yg berasal dari pola-pola perjalanan hidupnya.

dalam kehidupan sehari-hari, peran menjadi penting krn berfungsi mengatur perilaku seseorang.

sama spt status, peran ada yg berasal sejak lahir ataupun diperoleh. seseorang bisa memiliki banyak peran, peran-peran tsb harus dilaksanakan sekaligus sehingga disinilah terjadi konflik peran, contoh : Ibu saya sakit parah sedangkan kebetulan hanya ada saya yang bisa antar ibu ke RS, tetapi saya juga sebagai pelajar harus datang sekolah jam 7. Saya harus memilih datang telat atau berbakti pada orang tua.

F. Keteraturan Sosial

Seperti yg sudah ada di atas, kontak dan komunikasi tsb dapat menghasilkan keteraturan sosial namun tidak jarang juga konflik sosial. Keteraturan sosial tercapai apabila dalam interaksi sosial (kontak dan komunikasi), setiap individu melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan peran yang dimilikinya dan melaksanakan perannya sesuai dengan nilai dan norma yg dianut masyarakat. dengan kata lain, masyarakat yang teratur hanya dapat dicapai jika setiap individu melaksanaan kewajibannya terhadap orang lain dan menerima haknya dari orang lain. Sebaliknya, konflik sosial terjadi jika individu tidak melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain. Singkatnya, tidak berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.

Berkembangnya keteraturan sosial tidak akan terjadi dengan sendirinya. Melainkan harus diusahakan oleh setiap warga. Keteraturan sosial merupakan hubungan yg selaras dan serasi antara interaksi sosial, nilai sosial, dan norma sosial (hak dan kewajiban direalisasikan sesuai dengan nilai dan norma yg berlaku). Pentingnya keteraturan sosial mendorong beberapa daerah di Indonesia menciptakan slogan atau moto yg mengedepanan kehidupan yang tertib. Contoh : kota Jakarta memiliki motto Jakarta Teguh Beriman dan Yogyakarta memiliki motto Yogyakarta Berhati Nyaman.

Keteraturan sosial tidaklah berarti kestatisan karena masyarakat pada dasarnya tidaklah statis. Masyarakat membutuhkan perubahan agar bisa maju. Untuk itu diperlukan nilai, norma,dan aturan untuk mengendalikan perubahan tersebut sehingga perubahan yg terjadi hanya mengarah pada keteraturan baru dan kemajuan.

Menurut proses terbentuknya, keteraturan sosial melalui tahap-tahap berikut :

  1. Tertib sosial (social order) : kondisi kehidupan masyarakat yang aman, dinamis, teratur yang ditandai dengan setiap indivdu bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya. contoh : kehidupan suatu desa yang aman, nyaman, tenteram karena semua warga bertindak sesuai status dan perannya.
  2. Order : sistem norma dan nilai sosial yang berkembang, diakui, dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat, contoh : adat istiadat, peraturan sekolah, peraturan RT/RW. Order dicapai setelah tertib sosial tercapai/setiap individu melaksanakan hak dan kewajibannya.
  3. Keajekan : kondisi keteraturan yang tetap dan tidak berubah (konsisten) sebagai hasil dari hubungan antara tindakan, nilai, dan norma sosial yg berlangsung terus menerus.  Keajekan tercapai apabila semua orang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai sistem nilai dan norma yang berkembang. Hal itu dilaksanakan dengan konsisten sehingga terpelihara dalam tindakan.
  4. Pola : corak hubungan yang tetap/ ajek dalam interaksi sosial dan dijadikan model bagi semua anggota masyarakat/kelompok. Pola dapat dicapai etika keajekan tetap terpelihara dan teruji dalam berbagai situasi. contoh : dalam menyelesaikan beberapa persoalan, masyakat desa menggunakan musyawarah. cara ini ternyata berhasil. sehingga masyarakat terus menggunakan musyawarah utk menyelesaikan berbagai persoalan.
  5. Keteraturan sosial : kehidupan masyarakat yang inamis dan seimbang karena masyaraat berperilaku sesuai hak dan kewajiban berdasarkan nilai dan norma yg berlaku.

G. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial 

Ada dua bentuk : asosiatif (+) dan disosiatif (-)

Asosiatif :

1. Cooperation (Kerja Sama) : usaha bersama antarindividu/kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Ini dimulai ketika individu/kelompok menyadari memiliki kepentingan yang sama. Kerja sama dapat bertambah kuat apabila ada ancaman bahaya dari luar dan menyinggung kesetiaan yg telah tertanam. cth : kerjasama antar prajurit semakin erat ketika menghadapi musuh.

Proses sosial yg kaitannya erat dengan kerja sama adalah konsensus. Konsensus hanya mungkin terjadi bila 2 pihak atau lebih ingin memelihara hubungan dan masing masing memandang hubungan tsb sebagai kepentingan tersendiri. Keputusan untuk mengadakan konsensus timbul apabila anggota kelompok memiliki perbedaan pendapat. Dalam konsensus, pertentangan kepentingan terlihat nyata, tetapi tidak sebesar dalam konflik.
a. Gotong Royong (kerukunan) : saling tolong menolong secara sukarela
b. Kooptasi : penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dan pelasanaan politik organisasi sebagai satu-satunya cara menghindari konflik yang bisa mengguncang organisasi. Contoh : presiden menyetujui hukum Islam di NAD untuk mencegah disintegrasi bangsa (penerimaan dalam kepemimpinan) dan menjalankan peraturan lalu lintas/peraturan sekolah* (penerimaan dalam pelaksanaan) *dalam hal bukan politik
c. Koalisi : kombinasi antara dua organisasi atau lebih yg mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yg tidak stabil apabila kedua organisasi memiliki strutur tersendiri.
d. Bargaining : pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang/jasa antara 2 organisasi atau lebih. Sifatnya mutualisme. contoh : saat krisis ekonomi, RI dan Thailand menukar beras ketan dengan pesawat buatan Dirgantara buatan RI.
e. Joint Venture : kerja sama dalam pengusahaan proyek tertentu (bisnis), misalnya pertambangan minyak dan perhotelan

2. Akomodasi : usaha untuk meredakan pertentangan agar tercipta keseimbangan tanpa menghancurkan lawan (dalam arti proses) dan keseimbangan interaksi berkaitan dengan nilai dan norma sosial yg berlaku (dalam arti keadaan).

a. Koersi : akomodasi yg prosesnya melalui paksaan secara fisik/kekerasan maupun psikologis. Salah satu pihak berada di posisi yang lemah ( spt : sistem perbudakan dan penjajahan) . contoh : polisi mengeksekusi pelaku demo dengan gas air mata.
b. Arbitrase : akomodasi yg prosesnya melalui pihak ketiga, karena pihak-pihak yg bertikai tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Pihak ketiga dipilih oleh kedua belah pihak/badan yg berwenang. Contoh : masalah karyawan dan perusahaan tentang standar gaji. Lalu diselesaikan dengan pihak ketiga yaitu pemerintah yang menetapkan upah minimum (bersifat memaksa)
c. Mediasi : sama dengan arbitrase namun pihak ketiga bersifat netral. Kedudukan pihak ketiga sebagai penasihat yang mengusahakan jalan damai tetapi tidak memiliki wewenang mengambil keputusan untuk menyelesaian masalah. Contoh : guru BK, masalah RI-GAM dan Finlandia sebagai mediator.
d. Konsiliasi : usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak yang bertikai untuk mencapai suatu kesepakatan. Bisa melalui lembaga. Contoh : mempertemukan wakil buruh dan perusahaan untuk saling mengungkapkan keinginan dan mencari kesepakatan
e. Ajudikasi : cara menyelesaian masalah melalui pengadilan
f. Kompromi : menyelesaikan masalah dengan pihak yg terlibat saling mengurangi tuntutannya. Bisa disertai toleransi serta pengurangan ekspetasi kita.

3. Aculturation/Akulturasi : berpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan kepribadian masing-masing. Contoh : candi borobudur (India dan Indonesia), keroncong (portugis dan Indonesia).

4. Asimilasi :berpadunya dua kebudayaan menjadi suatu kebudayaan yang baru (dengan menghilangkan kepribadian budaya-budaya asalnya). Terdapat proses identifikasi diri dengan kepentingan dan tujuan kelompok dan keinginan untuk mengurangi perbedaan itu guna mencapai suatu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama.

5. Amalgamasi : pernikahan beda suku/agama. Contoh : orang Bule menikah dengan orang Indonesia.

Disosiatif :

  1. Competition/Kompetisi : perjuangan berbagai pihak mencapai tujuan tertentu. Bisa bersifat pribadi (cth : memperebutkan kedudukan dalam suatu organisasi) dan non-pribadi (cth:persaingan partai politik dalam merebut hati rakyat). Bersifat sportif/fair-play dan adil sehingga sangat baik untuk meningkatkan prestasi seseorang.
  2. Contravention/Kontravensi : proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Ditandai dengan ketidak puasan seseorang, perasaan tidak suka yg disembunyikan, kebencian, dan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang sehingga cenderung bersifat rahasia. Kontravensi menyerang lawan tidak secara fisik melainkan psikologis (membuat lawan resah). Sikap tersembunyi ini dapat berubah menjadi pertentangan/pertikaian dan wujudnya dapat berupa protes, fitnah, makian, surat selebaran, agitasi, subversi, teror, dll (saat diungkapkan kebencian itu, dilakukan dgn cara yg salah)
  3. Conflict/Konflik (Pertentangan) : perjuangan berbagai pihak mencaai tujuan ternteu dengan menantang pihak lawan (berusaha menghancurkan pihak lawan). Biasanya disertai dengan ancaman dan kekerasan (secara fisik dan psikologis). Hal yg paling berperan di di sini adalah perasaan (perasaan memprovokasi pihak-pihak sehingga smakin memuncak). Pertentangan sebenarnya tidak selalu negatif, pertentangan bisa menjadi alat utuk menyesuaikan norma-norma yg telah ada dengan kondisi baru sesuai perkembangan masyarakat. Pertentangan juga bisa mendatangkan kerja sama karena masing-masing piha mengintropeksi diri untuk perbaikan. Contoh : perombokan aturan-aturan yang mengekang hak politik warga negara pada masa orde baru ke orde reformasi.

Posted on November 24, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: